ILMU NEGARA




A.     ISTILAH DAN BATASAN
1.     Pengertian dan Ilmu
Orang yang tau, disebut mempunyai penegetehuan. Orang tau tentang dunia dan alam yang mengeliliginnya, ia tau tentang manusia lain yang hidup bersama, dan tau tentang negara. Kebanyakan pengetahuan ini tercapainya olehnya dari pengalaman yang bersentuhan dengan inderanya.
Disamping pengetahuan tentang hal-hal yang berubah-ubah dan bermacam-macam, ia tahu juga tentang hukum dan negara. Jadi segala sesuatu yang diketahui oleh manusia disebut Pengetahuan. Manusia belum merasa puas dengan hanya sekedar tahu saja, ia mengerti dan memaham apa yang diketahuinya itu, maka diadakan penyelidikan yang mendalam. Pengetahuannya yang masih mentah dan beraneka ragam itu dikumpulkan dan di golong-golongkan kemudian disusunnya menuut rangkaian yang teratur hingga pengetahuan itu meningkat menjadi ilmu. Dengan sadar diusahakannya untuk mengetahui sebenar-benarnya sesuai dengan hal yang diketahui atau obyeknya itu. Tegasnya ilmu adalah pengetahuan manusia yang mempunyai sasaran (obyek) tertentu, mempunyai metode tertentu dan mempunyai sistem tertentu.
Menurut Ralph Ross dalam bukunya The Fabric of Society, mengatakan bahwa ciri-ciri pokok daripada pengertian “ilmu” adalah sebagai berikut :
a.    Bahwa ilmu itu rasionil
“Rasionil” adalah suatu sifat kegiatan berpikir yang ditundukkan pada logika formil.
b.    Bahwa ilmu itu besifat Empiris.
“Empiris” karena konklusi-konklusinya yang diambil harus dapat di tundukkan kepada pemeriksaan atau pada verifikasi pancaindera manusia.
c.    Bahwa ilmu itu besifat umum.
“Umum” bahwa kebenaran-kebenaran yang dihasilkan oleh ilmu itu dapat diverifikasikan oleh peninjauan ilmiah.
d.    Bahwa ilmu itu bersifat akumulatif.
“Akumulatif” karena ilmu yang kita kenal sekarang ini merupakan kelanjutan dari ilmu yang telah dikembangkan sebelumnya.

2.     Ilmu dan Metode
Sepeti yang kita ulas di muka ilmu adalah sesuat yang didapat dari pengetahuan yang diperoleh dengan berbagai cara, maka tidaklah semua pengetahuan itu merupakan ilmu, sebab setiap pengetahuan itu baru dinamakan llmu apabila memenuhi syarat-syaratnya, dalam hal ini dapat kita namakan “syarat-syarat ke ilmuan” dari sesuatu pengetahuan.
Ilmu adalah sesuatu, baik berhasil atau gagal mencapai kebenaran, tetap mempunyai arti, untuk membantu mencari kebenaran. Manusia tidak kuasa untuk mencapai atau mendapatkan kebenaran hakiki, manusia hanya kuasa memperoleh nilai-nilai budaya, dan tidak mungkin mencapai kebenaran hakiki.

3.     Metode Ilmu
Metode ilmu adalah suat prosedur berpikir runtut yang digunakan dalam penelitian, peninjauan untuk mendapatkan kesimpulan ilmiah, dalam hal ini mencakup sebagai berikut :
a.    Pernyataan masalah
Apabila seseorang mengadakan suati penyelidikan ilmiah, maka dalam tahap permulaan harus mampu mengientifikasikan masalah tersebut, harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan guna mempermudah penyusunan identivikasi dan rumusan masalah.
b.    Perumusan hipotesa
Adalah suatu pernyataan yang menekankan bahwa fenomena yang diselidiki itu ada hubungannya dengan koondisi-kondisi tertentu yang dapat di amati. Hipotesa juga dapat diartikan sebagai suatu usul yang bersifat tentatif yang dirumuskan secara deduktif-logis.
c.    Elaborasi dedukatif hipotesa
Adalah penelitian secara seksama serta sunguh-sunguh untuk menyatakan apakah suatu hepotesa itu benar-benar atau tidak perlu di uji dengan datadata empiris yang relevant, maka perlu diadakan elaborasi deduktif terhadap hipotesa itu, dengan cara ini maka hipotesa yang bersifat khusus itu dapat diverifikasikan kepada kenyataan empiris.
d.    Test dan verifikasi terhadap hipotesa.
Setelah dikemukakan suatu hipotesa dan diadakan elaborasi deduktif terhadap hipotesa demikian juga telah di kemukakan indikator-indikator, maka dicobalah hipotesa itu kedalam kehidupan masyarakat.

4.     Ilmu Kenegaraan
Ketiga istilah (Ilmu Kenegaraan, Ilmu Negara dan Ilmu Politik) mempunyai obyek penyelidikan yang sama yaitu negara, karena obyeknya sama maka ketiga istilah mempunyai hubungan satu sama lain, walaupun didalamnya terdapat pebedaan dan kesamaan.

5.     Ilmu Negara
Ilmu Negara adalah ilmu yang mempelajari persoalan-persoalan serta pengertian-pengertian umum yang biasa terdapat pada setiap negara. Ilmu negara tidak membahas bagaimana pelaksanaan hal-hal yang umum itu dalam suatu negara tetentu karena itu negara hanya mempunyai nilai teoritis belaka.
Disamping istilah “ilmu Negara” kita juga mengenal istilah”Ilmu Tata Negara” ialah ilmu yang mempelajari susunan atau tata suatu negara tetentu.

6.     Ilmu Politik
Politik secara etimologi berasa dari perkataan bahasa Yunani Purba, yaitu “Polis”  yaitu kota yang diangap negara yang terdapat dalam kebudayaan Yunani Purba yang pada saat itu kota di anggap identik dengan negara dengan demikian Polis dapat diartikan sebagai tempat-tempat tinggal bersama dai orang-orang biasa selaku para warganya.


U M U M
A.     PENGERTIA NEGARA.
Negara adalah lanjutan dari keinginan manusia hendak bergaul antara seorang dengan orang lainnya dalam rangka menyempurnakan segala kebutuhan hidupnya, semakin luas pergaulan manusia dan semakin banyak pula kebutuhannya, maka bertambah besar kebutuhanna kepada sesuatu organisasi Negara yang akan melindungi dan memelihara keselamatan hidupnya.
Sejak kata negara diterima sebagai pengertian yang menunjukkan organisasi bangsa yang bersifat teritorial dan mempunyai kekuasaan tertinggi yang perlu ada untuk menyelenggarakan kepentingan bersama dan tujuan bersama.

B.    UNSUR-UNSUR NEGARA
Negara merupakan suatu organisasi dalam masyarakat yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu, dengan kata lain sesuatu organisasi baru dapat disebut negara apabila organisasi itu telah memenuhi semua unsur yang harus ada dalam suatu negara.
Menurut Konvensi montevidio tahun 1933, merupakan hukum Internasional dimana negara harus mempunyai empat unsur konstitutif sebagai berikut :
a.    Harus ada penghuni (rakyat, penduduk, warga negara)
b.    Harus ada wilayah atau lingkungan kekuasaan.
c.    Harus ada kekuasaan tertinggi, pemerintah yang berdaulat.
d.    Kesanggupan berhubungan dengan negara-negara lainnya.
e.    Pengakuan (deklaratif).


KESIMPULAN

Sebenarnya masih banyak bahasan yang perlu penulis sampaikan pada kesempatan ini, dan tentunya banyak juga refrensi yang didapat, untuk itu bagi pembaca di blog kami yang kurang puas atas sedikit uraia yang kami sampaikan bisa langsung beli bukunya yang berjudul  “ILMU NEGARA”  Oleh : Samidjo, SH @1986, Penerbit “CV.ARMICO, Bandung”
Post a Comment